BI-120 WATER CONTENT IN PETROLEUM PRODUCT
BI-120 WATER CONTENT IN PETROLEUM PRODUCT (PENGUJIAN KADAR AIR DALAM ASPAL)
Standar Acuan : SNI 03-3641-1994, ASTM D-95, AASHTO T-55
Air (H2O) mempunyai kemampuan untuk melarutkan banyak zat-zat organik. Air (H2O) sering terkandung dalam minyak mentah (crude oil) sebagai fasa cair bersama dengan minyak atau gas yang terlarut didalamnya. Namun pada crude oil dan petroleum products (produk-produk minyak bumi termasuk aspal), keberadaan air harus dihilngkan karena air termasuk dalam kategori pengotor. Semakin banyak pengotor yang terkandung dalam aspal, semakin rendah kualitas dan mutu aspal tersebut. Alasan utama mengapa air tidak dapat ditoleransi dalam produk minyak bumi adalah air dapat menyebabkan lonjakan-lonjakan panas lonjakan-lonjakan panas, tekanan pada crude distillation unit akan menjadi naik, dan mengakibatkan pengolahan tidak maksimal. Selain air, pengotor lain yang juga harus dikurangi dan dihilangkan keberadaannya adalah senyawa-senyawa sulfur (S), nitrogen (N), dan oksigen (O).
Kandungan air (H2O) perlu ditentukan agar bisa diketahui berapa prosentase kandungan air (H2O) di dalam crude oil atau petroleum product atau Aspal Cair.
Peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut :
- Labu penyulingan gelas
- Tabung penerima dengan pembacaan skala dan ketelitian 0,1 ml untuk kapasitas 2 ml dan 0,2 ml untuk kapasitas tabung penerima 25 ml;
- Tabung pendingin dengan panjang lebih besar 400 mm dan diameter dalam 9,5 mm dan diameter luar 12,7 mm;
- Pembakar gas;
- Pelarut Xilol atau hasil penyulingan minyak bumi mengandung 98% minyak dengan suhu didih antara 120°C sampai 250°C

BI-110 DISTILATION OF CUTBACK ASPHALT
BI-110 DISTILATION OF CUTBACK ASPHALTS (CARA UJI PENYULINGAN ASPAL CAIR)
Standar Acuan : SNI 2488:2011 (Revisi SNI 06-2488-1991); ASTM D-402; AASHTO T-78.
Penyulingan Aspal Cair bertujuan untuk menentukan fraksi aspal cair agar diperoleh mutu aspal cair yang tepat untuk perencanaan dan pelaksanaan konstruksi jalan serta keseragaman cara uji. Dengan pengujian ini dapat mengukur jumlah bahan yang mudah menguap dalam aspal cair pada temperatur pengujian. Secara garis besar pengujian ini dilakukan dengan cara : 200 mL contoh aspal cair disuling dalam labu destilasi 500 mL dengan cara mengontrol kecepatan tetesan 50C per menit sampai temperatur larutan 3600C dan isi destilat yang diperoleh dicatat untuk setiap temperatur pengujian.
Cara uji penyulingan aspal cair terbagi menjadi 3, yaitu :
- Aspal Cair Jenis Menguap Cepat (RC)
- Aspal Cair Jenis Menguap Sedang (MC)
- Aspal Cair Jenis Menguap Lambat (SC)
menggunakan satuan standar dalam SI. Cara uji ini mengukur jumlah bahan yang mudah menguap dalam aspal cair pada temperatur pengujian.

BI-100 SPECIFIC GRAVITY OF SEMI SOLID BITUMINOUS MATERIALS
BI-100 SPECIFIC GRAVITY OF SEMI SOLID BITUMINOUS MATERIALS (PENGUJIAN BERAT JENIS ASPAL PADAT)
Standar Acuan : SNI 2441-2011, ASTM D-70, AASHTO T-228
Metode ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian berat jenis aspal padat dengan gelas ukur. Tujuan metode ini adalah untuk menentukan berat jenis aspal padat. Pengujian ini dilakukan terhadap semua aspal padat, yang selanjutnya hasilnya dapat digunakan dalam pekerjaan perencanaan campuran mutu perkerasan jalan. Berat jenis aspal adalah perbandingan antara berat jenis aspal padat dan berat air suling dengan isi yang sama pada suhu 25ºC atau 15,6ºC.
Berat jenis aspal adalah perbandingan antara berat aspal, terhadap berat air suling dengan isi yang sama pada suhu tertentu, yaitu dilakukan dengan cara menggantikan berat air dengan berat bitumen atau dalam wadah yang sama atau sudah diketahui volumenya berdasarkan konversi berat jenis air sama dengan satu. Berat jenis dari bitumen sangat tergantung pada nilai penetrasi dan suhu dari bitumen itu sendiri. Macam-macam berat jenis bitumen dan kisaran nilainya adalah sebagai berikut : Penetrasi grade bitumen dengan berat jenis antara 1,010 (untuk bitumen dengan penetrasi 300) sampai dengan 1,040 (untuk bitumen dengan penetrasi 25), Bitumen yang telah teroksidasi (oxidized bitumen) dengan berat jenis berkisar antara 1,015 sampai dengan 1,035, Hard grades bitumen dengan berat jenis berkisar antara 1,045 sampai dengan 1,065, Cutback grades bitumen dengan berat jenis berkisar antara 0,992 sampai dengan 1,007Aspal : Aspal yang berbentuk padat pada saat keadaan penyimpanan (suhu ruang). Nilai penetrasi aspal : Nilai yang menyatakan derajat kekerasan bitumen.Umumnya dipakai pada bitumen jenis penetrasi grade bitumen. Ter : Material yang mirip dengan bitumen hanya saja merupakan hasil proses penyulingan dari batu bara. Cutback grades bitumen : Jenis bitumen yang sudah berbentuk cair karena telah dicampur dengan bahan pencair yang mudah menguap seperti bensin,solar dan minyak tanah.
Alat dan Bahan :
- Termometer,
- Desikator pendingin,
- Gelas ukur, kapasitas 250 ml,
- Kompor,
- Timbangan,
- Air Suling,
- Batu Es,
- Aspal

BI-400 CORE DRILL ASPHALT TEST
BI-400 CORE DRILL ASPHALT TEST (PENGEBORAN LAPISAN ASPAL)
Standar Acuan : SNI 6890-2014, ASTM D 979-01 (2006), IDT.
Pengambilan contoh uji dan pengujian merupakan dua hal yang sangat penting dalam fungsi pengendalian mutu. Data dari pengujian ini merupakan alat untuk menilai kualitas produksi apakah memenuhi syarat atau tidak. Dengan alasan ini, pengambilan contoh dan prosedur pengujian harus dilakukan dengan hati-hati dan benar. Salah satu kesalahan yang besar dalam menguji bahan adalah kegagalan untuk mengambil contoh uji yang mewakili. Apabila contoh uji yang dikirim ke laboratorium tidak mewakili kondisi bahan yang sebenarnya, maka hasil pengujian akan sia-sia, bahkan apabila digunakan, mungkin menyesatkan. Oleh karena itu, pengambilan contoh uji harus dilakukan dengan prosedur standar.
Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang “Tata cara pengambilan contoh uji campuran beraspal” mencakup ketentuan tentang cara pengambilan contoh uji campuran beraspal dari unit produksi, penyimpanan, pengiriman, atau di tempat (in place). Standar ini akan bermanfaat bagi produsen, teknisi, pelaksana dan pengawas dalam pengembangan data awal, pengendalian produk pada sumber produksi atau penyimpanan, atau penggunaan di lapangan dan pengambilan keputusan penerimaan atau penolakan campuran beraspal.
Pengujian core drill ini bertujuan untuk menentukan dan mengambil sampel perkerasan di lapangan sehingga dapat diketahui tebal dan karakteristik campuran perkerasan. Pengujian ini dilakukan beberapa titik STA yang telah ditentukan bersama.
Peralatan yang digunakan antara lain:
- Mesin core drill
- Mobil pengangkut mesin core drill
- Bahan penambal lubang hasil core drill
- Penjepit aspal
- Jangka sorong
- Air
- Peralatan tulis
Langkah-langkah pengambilan :
- Letakan mesin pada lokasi yang akan diambil contohnya
- Kokohkan kedudukan mesin dengan bantuan alat statis, turunkan semua baudnya hingga mengikat kuat pada permukaan jalan
- Isi tangki bahan bakar dengan bensin
- Periksa oli mesin, oli harus menunjukan maksimum, kalau kurang tambahna SAE 30 hingga batas maksimum.
- Lumasi skrup pengangkat dan as pelurus dengan gemuk
- Pasang mata bor dengan kuat menggunakan kunci yang tersedia
- Siapkan air dengan posisi lebih tinggi, alirkan dengan selang menuju mata bor. Selama pengeboran air harus selalu mengalir.
- Hidupkan mesin dengan menarik tali handle stater
- Putar handel pemutar berlawanan jarum jam sehingga mata bor turun sampai kedalaman yang diinginkan.
- Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan putar handel engkol searah jarum jam untuk mengangkat mata bor
- Matikan mesin, baut pengunci statis dinaikan kembali dan mata bor dilepas.
- Ambil sampel dengan menggunakan sampel Tong, beri tanda lokasi STA pada sampel dan simpan untuk diukur ketebalan dan density nya.
- Lubang aspal segera dilumasi dengan aspal cair / aspal emulsi dan segera tutup dengan campuran aspal hotmix.
- Melanjutkan untuk titik berikutnya.
Pengambilan contoh dari hamparan, setelah dipadatkan :
- Pilih secara acak lokasi-lokasi yang diambil contohnya, dapatkan sedikitnya 3 bagian contoh dari setiap titik pengambilan; uji setiap contoh kemudian hasil pengujian dirataratakan, hasilnya akan menentukan diterimanya pekerjaan.
- Pengambilan contoh dari tiap lapisan dapat dilakukan dengan cara pemboran atau dengan cara lain yang tidak menganggu/merusak material.
Untuk menentukan titik-titik Core Drill silahkan melihat pada panduan Spesifikasi Bina Marga 2018 Revisi 2.
